Kejar Tayang Mengancam Kualitas Sinetron

Fenomena kejar tayang (stripping) yang banyak dilakukan produser saat ini telah mengancam kualitas sinetron di sejumlah televisi dalam negeri. Praktisi perfilman sekaligus sutradara kawakan, Ahmad Yusuf, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/6) lalu mengatakan, fenomena kejar tayang sinetron Indonesia banyak dilakukan produser saat ini karena sikap kebanyakan produser yang mementingkan unsur rating.



"Sinetron itu membawa beban rating TV dan hal itu mempengaruhi harga saham stasiun TV yang bersangkutan. Jika rating TV turun, maka harga sahamnya bisa anjlok. Jadi sinetron sekarang ini sudah jauh berbeda dengan sinetron generasi Orde Baru yang benar-benar mementingkan kualitas. Silahkan saja banding-bandingkan antara sinetron masa kini dan sinetron di era 90-an," ujar Ahmad Yusuf lagi.

Selain itu, menurut Yusuf, kondisi perfilman saat ini juga tidak jauh beda dengan sinetron yang hanya mementingkan selera dan kebutuhan pasar. Bahkan, akibat faktor kejar tayang untuk mengikuti keinginan pasar, beberapa unsur penting yang seharusnya menjadikan sinetron itu berkualitas malah sering ditiadakan. "Saat ini telah terjadi pemerkosaan pada sinetron kita. Ilmu sinematografi seperti artistik dan sebagainya sering tidak berlaku lagi dalam pembuatan sebuah sinetron," ujarnya.

Kondisi ini juga berbeda jika dibandingkan dengan sinetron buatan sebelum 2005. Sinetron pada saat itu banyak mengandalkan unsur kualitas dan benar-benar menjanjikan kepuasan penonton.

Ketika ditanya wartawan, Yusuf menjelaskan, fenomena stripping bisa terjadi karena adanya kerja sama dengan beberapa stasiun televisi. Katakanlah pada saat ini ada 3 stasiun televisi yang menayangkan 4 judul sinetron dalam sehari. Berarti dalam seminggu sudah terdapat 84 judul sinetron.
Tetapi, akibat faktor kejar tayang tersebut, maka 3 stasiun televisi tersebut hanya dapat menayangkan 4 judul sinetron dalam seminggu. "Lalu ke mana sisanya. Bagaimana nasib para pemain atau crew film lainnya. Seharusnya mereka bisa berkreasi lebih banyak (membuat film-Red), tetapi karena hanya membuat 4 produksi film, maka mereka kan menganggur. Ini kan potensi masalah besar di dunia film kita," katanya.

Memang, kata Ahmad Yusuf, alasan insan perfilman mengambil langkah stripping karena beban biaya yang lebih murah dibandingkan dengan menggunakan metode seperti yang dilakukan sebelum tahun 2005.

Hal itu pula yang perlu menjadi perhatian bagi berbagai pihak di dunia film agar dapat mengembalikan kondisi sinetron kita seperti tahun-tahun yang lalu. (Tri Handayani) (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=202049 Jumat, 13 Juni 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Terbaru

3