Putri yang Ditukar, Sinetron Terlaris Yang Dicemooh Facebooker


Banyak pendidik, budayawan, tokoh masyarakat, dan bahkan orang awam, yang langsung marah ketika diajak berbicara tentang dunia sinetron Indonesia. Bahkan saat ini di jejaring sosial tengah digalang gerakan anti sinetron “Putri Yang Ditukar” yang disiarkan RCTI.

Simaklah kata-kata Taufik Abdullah, budayawan yang juga Ketua Akademi Jakarta, “Sinetron Indonesia yang dewasa ini banyak tampil di televisi swasta dan TVRI, kualitasnya nol besar. Lebih baik saya baca buku atau menyimak koran-koran luar negeri. Nonton sinetron membuat andrenalin saya kumat dan rasanya ingin ngomel saja,” (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=181799 Taufik Abdullah: Kualitas Sinetron Indonesia Sangat Rendah, Ami Herman, Rabu, 12 September 2007)

Ungkapan Taufik Abdullah yang begitu emosional dapat dipahami. Bayangkan saja acara-acara hiburan unggulan yang ditayangkan televisi swasta setelah Maghrib sampai pukul 22.00 dipenuhi sinetron yang hampir semuanya kualitasnya buruk.

Sebetulnya sudah beberapa tahun terakhir ini, sinetron Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dulu televisi kita dipenuhi dengan telenovela produk Amerika Latin, sinetron dari Korea, Jepang, film-film barat, dan India. Tapi sayangnya para produser lebih suka membuat sinetron picisan. Sehingga akhirnya sinetron kita menjadi tuan rumah yang buruk.


Wajar saja kalau ada facebooker yang menggalang gerakan yang melecehkan sinetron kita sendiri seperti yang dilakukan pada “Putri Yang Ditukar”. Gerakan ini dilakukan dalam bentuk mengumpulkan koin recehan untuk disumbangkan kepada para artis Putri Yang Ditukar supaya mereka tidak harus bermain di sinetron bodoh 3 jam sehari, 7 hari seminggu. Begitu kata adminnya. Tentu saja ini sarkas yang maksudnya menyindir. (http://hermansaksono.com/2011/02/koin-untuk-sinetron-putri-yang-ditukar.html)

Dalam sinetron tersebut Nikita Willy yang berperan sebagai Amira digambarkan sebagai remaja putri yang baik hati sampai-sampai harus mengalah pada siapa saja, termasuk orang-orang yang jelas-jelas memiliki karakter kriminal. Sebagai contoh, ketika Aini, yang belakangan terbukti sebagai ibu kandungnya, jatuh dari loteng, Amira mengaku kalau ia yang mendorongnya. Ini dilakukan demi melindungi ayahnya, Iksan (yang sebenarnya bukan ayah kandungnya). Ia tak ingin ayahnya yang disalahkan karena saat kejadian Iksan ada di sana. (ingin menunjukan sebagai putri berhati mulia)

Padahal kalau menggunakan logika, mengungkapkan orang yang mencelakai istri Prabu itu sangat mudah. Karena di sini ada istri Prabu lainnya, Marlena, yang memusuhi Aini dan terus-menerus melakukan kejahatan. Akibat pengakuan ini Amira diadili dan dihukum. Tentu plot film yang seperti ini sangat melecehkan akal sehat pemirsa. Para pemirsa dianggap bodoh sehingga mau menerima begitu saja jalan cerita yang asal-asalan seperti ini. Tidak sampai di situ saja, kebodohan demi kebodohan terus dilakukan oleh Amira untuk menunjukan dia sebagai seorang putri yang “baik”. Mungkin inilah yang membuat sejumlah facebooker sebel, dan menggalang gerakan anti sinetron ini.

Umumnya sinetron-sinetron kita memang melecehkan logika dan akal sehat. Tokoh antagonistis sering digambarkan membuat kejahatan-kejahatan yang kelihatannya direncanakan dengan cara cerdik tapi sebetulnya hanya menggunakan logika yang sekenanya saja. Tapi tokoh semacam ini terus-menerus dapat bertahan dengan aman selama ratusan episode sinetron karena adanya tokoh-tokoh yang baik hati yang melakukan kebodohan demi kebodohan seperti Amira.

Sinetron ini terasa sangat dipaksakan untuk menjadi sinetron dengan masa tayang yang lama. Sejak awal Aini sudah mengetahui dan memegang bukti cetakan kaki yang menyatakan anaknya, Zahira, sebetulnya bukan anak kandungnya. Anak kandungnya yang sesungguhnya adalah Amira yang ditukar oleh Wisnu dengan Zahira di rumah sakit, beberapa saat setelah dilahirkan.

Namun Aini memegang erat-erat rahasia ini. Bahkan ketika ditanya suaminya sendiri, Prabu yang mulai curiga, Aini bersikeras dan dengan menangis tersedu-sedu tak mau mengungkapkan hal yang sebenarnya. Alasannya tak masuk akal, kalau sampai rahasia ini terungkap maka ia khawatir Zahira jadi menderita karena selama ini sudah diangggapnya sebagai anak sendiri.

Cerita jadi bertele-tele ketika Aini dibuat koma karena jatuh dari loteng, sehingga rahasia “Putri yang Ditukar” tetap tak terungkap dalam waktu lama. Pelaku penukaran bayi, Wisnu, dengan aman bisa terus-menerus melakukan kejahatan. Maka sinetron pun dapat terus diperpanjang sesuai keinginan produsernya.

Yang ajaib, sinetron seperti ini justru banyak “penggemarnya”. Ini terbukti dengan masuknya sinetron ini sebagai nominator Sinetron Terfavorit Panasonic Award. Apakah ini berarti pemirsa sinetron kita, memang lebih suka dibodohi?

Meskipun dicemooh oleh kalangan facebooker, Putri Yang Ditukar (PYD) menjadi Sinetron Terlaris 2010/2011 yang berhasil mencetak TVR dua digit –> 10,4% dan memukau 35,3% pemirsa TV. Sedangkan Nikita Willy mendapatkan gelar Artis Terfavorit PGA 2010 – Artis Wanita Terfavorit NIKCA 2010. (http://pangeran229.wordpress.com/thread/nikita-willy-putri-yang-tertukar/)

Atas kenyataan ini, seorang blogger berkomentar: “Ini sungguh-sungguh tidak bisa dimengerti, bagaimana mungkin ada orang yang bisa terhibur menonton cerita yang tidak masuk nalar dengan penggarapan yang serba ngawur. Jika mereka tidak merasa janggal ketika menonton Putri Yang Ditukar atau Cinta Fitri, apakah mereka juga tidak merasa aneh ketika diperalat oleh politikus busuk dan dicekoki oleh doktrin-doktrin intoleransi?” (http://hermansaksono.com/2011/02/koin-untuk-sinetron-putri-yang-ditukar.html)

Muhammad Soedarsono. Penulis adalah Alumni Jurusan Komunikasi Fisipol UGM. Penulis Buku

3 komentar:

  1. Cerita PYD makin bertele-tele enggak jelas nih. Capek nontonnya. Makin gak mutu!

    BalasHapus

Artikel Terbaru

3